Merajut Mimpi di Tengah Pandemi

Merajut Mimpi di Tengah Pandemi

September 15, 2020 Responsive 0

Santai, tenang dan mudah tersenyum. Inilah sosok yang sekilas terlihat dari Danni Ramdan, pemuda asal Katapang, Bandung. Tak disangka, anak kedua dari tiga bersaudara ini memiliki karakter pekerja keras. Selepas lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) denganjurusan Informatika pada tahun 2016, Danni bekerja sebagai programmer di perusahaan konsultan Teknologi Informasi (TI) selama sekitar satu tahun. Dengan gelora mudanya, anak kedua dari tiga bersaudara ini kemudian mengadu nasib ke ibu kota. Danni merintis karir di Jakarta sebagai programmer gudang di salah satu perusahaan retail sepatu di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Setiap hari, Danni harus mengawasi dan mendata barang yang masuk ke gudang.

Setelah bekerja kurang dari setahun, Danni kemudian mendaftarkan dirinya untuk kuliah di jurusan Manajemen FEB UHAMKA pada tahun 2018. Mengapa jurusan Manajemen ? Pemuda yang mahir coding ini mengaku ia pernah mencoba merintis perusahaan start-up bersama teman-teman programmer. Sayang, pengetahuan mereka tentang manajemen sangat minim, seperti promosi, pengelolaan SDM dan membuat target. Hal inilah yang membuat Danni ingin mendalami ilmu manajemen.

Kuliah sambil bekerja dijalaninya dengan bahagia. Lelaki kelahiran 2 Januari 1998 ini bangga bisa membiaya kuliahnya sendiri. Ia tidak ingin biaya kuliah dirinya di Jakarta membebani pikiran orang tua di kampung. Setiap hari, sejak pagi hingga siang, biasanya ia habiskan waktu di kampus. Kemudian ia bekerja dari jam 6 sore hingga jam 12 malam. Kadang Danni juga bekerja di siang hari, namun jika ada kuliah ia mendapat keringanan dari perusahaan tempatnya bekerja. Meski super sibuk, lelaki yang gemar futsal ini masih menjaga prestasi akademiknya. Pada semester 4, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Danni mencapai 3,71 bahkan pada semester 1, IP-nya sempat sempurna 4.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sejak wabah corona merebak, Danni harus menelan pil pahit kehidupan. Ia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) pada akhir Maret 2020. Alhasil, Danni harus pulang kampung ke Bandung sambil menjalani kuliah dengan online. Di kampung halaman, ia hanya di rumah saja lantaran pandemi corona yang kian meluas. Danni pun merasa kelimpungan lantaran tidak memiliki penghasilan. Tunggakan uang kuliah pun membengkak hingga 9,4 juta rupiah. Beban hidup semakin besar. Lantas, Danni mengajukan Beasiswa Al-Maun (BAM) ke LKSFI. Sejak awal Juli, keberuntungan mulai mendatanginya. Danni mendapat BAM untuk bantuan biaya pendidikan sejumlah 2 juta rupiah.

Keberuntungan masih terus mendekatinya. Sejak new normal diterapkan di Jakarta, Danni mendapat tawaran kerja lagi di perusahaan lamanya pada awal Agustus. Kini Danni sudah bekerja kembali di salah satu perusahaan retail sepatu. Berasal dari keluarga sederhana membuatnya ingin mandiri. Kuliah sambil bekerja kembali ia jalani meski di tengah pandemi. Danni tak ingin menyerah dengan keadaan. Danni sedang merajut mimpi indahnya. Ia ingin memadukan ilmu informatika dengan ilmu manajemen untuk membangun usaha sendiri. Dengan ketekunan dan kesabaran, pemuda pekerja keras ini yakin suatu saat dirinya bisa memiliki perusahaan start-up yang Inovatif.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 2 =