Bisnis Yang Tak Pernah Rugi

Bisnis Yang Tak Pernah Rugi

October 11, 2020 Perspektif 0



Dalam dunia pendidikan konvensional, kita diajarkan untuk menghitung secara matematis, seperti satu ditambah satu sama dengan dua atau lima dikurang dua sama dengan tiga. Di bangku kuliah dengan studi ekonomi, bisnis juga diajarkan dengan hitungan matematis. Jika pendapatan melebihi biaya, pelaku bisnis akan memperoleh untung sementara jika sebaliknya maka buntung atau rugi yang diperoleh. Jika jumlah pendapatan sama dengan biaya maka pebisnis mengalami titik impas (break event point).

Doktrin kapitalisme yang mendarah daging dan diajarkan di bangku kuliah adalah bagaimana para aktor bisnis didorong untuk (selalu) mendapat profit (untung). Profit inilah yang menciptakan nilai tambah (value added), membentuk akumulasi tabungan dan modal, mendorong ekspansi bisnis, sebagai penopang inovasi dan menciptakan kemakmuran. Alhasil, pola pikir masyarakat yang terbentuk adalah bagaimana agar selalu mendapat profit/margin dalam setiap akitivitas bisnis. Rugi (loss) secara matematis menjadi hantu yang menakutkan.

Kiblat cakrawala khazanah ilmu pengetahuan konvensional kadang membatasi dan memasung ruang gerak berfikir kita. Setiap gerak dan aktivitas seringkali dihinggapi virus untung-rugi secara materi. Jika diperkirakan untung, maka rencana kegiatan berjalan terus namun jika sebaliknya maka kegiatan bisa dibatalkan. Padahal dalam Islam ada bisnis yang tak pernah rugi.

Dalam Surat Al-Fatir ayat 29, Allah sudah menegaskan “Sesungguhnya orang-orangyang membaca Al Qur’an dan orang-orang yang mendirikan Shalat, orang-orang yang menginfakkan sebagian dari apa yang kami karuniakan kepada mereka dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan atau perniagaan yang tidak akan merugi”.

Allah sangat mengerti bahwa manusia kerap memperhitungkan untung-rugi. Dalam surat di atas Allah menggunakan kata ‘berdagang/ berniaga’. Berdagang dengan sesama manusia bisa untung, bisa rugi, bisa buntung atau bisa ditipu. Namun, jika berdagang dengan Allah, sudah ada jaminan tidak akan rugi. Di sini Allah mengajak orang beriman untuk berdagang di jalan Allah dengan cara amal sholeh yaitu membaca AL-Quran, mendirikah shalat dan bersedekah.

Di kampus FEB UHAMKA sudah terbangun budaya ‘berdagang dengan Allah’. Pembangunan Musholla DKM Al Ma’un dan Program sedekah 500 rupiah setiap hari per kelas melalui celengan kaleng memantik kita untuk sadar akan terbukanya cakrawala baru. Mahasiswa, dosen, karyawan dan segenap komunitas kampus ikut serta dalam penggalangan dana. Kegiatan penggalangan dana untuk amal sholeh tidak hanya bersedekah dan berkorban tetapi juga ada semangat solidaritas. Ada rasa kepedulian untuk membantu sesama.

Uang hasil program 500 rupiah dari celengan bahkan digunakan juga untuk beasiswa yang diberikan setiap semester bagi mahasiswa yang kurang mampu. Solidaritas yang terbangun digunakan untuk membantu mahasiswa yang kesulitan biaya kuliah sehingga mereka bisa membangun cita-cita tinggi.

Selain itu, kegiatan keagamaan juga marak di kampus FEB UHAMKA seperti Madrasah Generasi Qur’an, Sholat Jumat, Program Thafids Quran, Kajian Islam Online bahkan dan juga kegiatan bersih-bersih musholla. Semua kegiatan tersebut diprakarsai oleh mahasiswa. Sejak muda memang harus dibiasakan ‘berdagang dengan Allah’.

Salah satu investasi bisnis yang tak pernah rugi adalah sedekah. Rasul sendiri sangat menekankan agar umatnya selalu bersedekah bahkan beliau pernah bersumpah bahwa tidak akan berkurang harta karena sedekah. Secara matematis, jika kita bersedekah maka harta akan berkurang. Ketika di dompet ada uang 100 ribu, lalu setengahnya di sedekahkan maka sisanya tinggal 50 ribu. Namun, bukan seperti itu hitungan sedekah. Semakin banyak harta yang kita sedekahkan maka harta kita akan semakin berlimpah.

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 261, Allah menggambarkan sedekah seperti menanam benih kemudian tumbuh tujuh bulir dan setiap bulir menghasilkan 100 biji. Dan Allah akan menyempurnakan bayaran atau hak mereka (yang bersedkah) sebesar 700 kali lipat dan tidak mungkin menjadi 699. Balasan dari Allah bisa tidak hanya berupa materi uang namun bisa bermacam-macam bahkan dari segala penjuru seperti kesehatan, keharmonisan keluarga, kedudukan di masyarakat, kemudahan urusan, keteguhan iman dan lain-lain. Itu janji Allah, dan Allah tidak mungkin ingkar janji.

Jika kita amalkan 50 ribu perbulan untuk satu buah Al Qur’an kemudian Al-Qur’an tersebut dipakai oleh temen-temen madrasah untuk tahfidz qur’an. Suatu hari nanti mereka akan mengajarkan Al-Qur’an ke murid-murid mereka akan melakukan hal yang sama dilakukan terus-meneurs dengan regenerasi maka dengan 50 ribu diawal tadi amal tidak akan terputus walau Al-Qur’annya sudah tidak ada. Inilah amal jariyah yang tak akan putus, pahala yang dijanjikan Allah akan mengalir terus.

Berbisnis dengan Allah tak akan rugi, ditipu, buntung dan bankrut. Tidak ada sedekah yang membawa kita kepada keburukan. Marilah kita berbisnis dengan Allah maka harta kita tidak akah pernah berkurang karena harta kita yang sebenarnya adalah harta yang kita sedekahkan di jalan Allah. Sebagai generasi muda kita harus berani dan membiasakan diri untuk berbisnis dengan Allah.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 2 =